Gelap

Pada berjuta detik berhamburan, acuh akan mata angin kepekaan. Pada gemerlapnya malam manusia berpesta dalam kesempitan, berduka dari semesta. Pada sebuah kosan kelas menengah engkau tersandar, berjuta serapah kau hujamkan ke sepoi angin. Pada kakek tua yang tertatih di pinggir rel kereta, kau rapalkan fatihah dengan setitik air mata kecewa.

Pada peluh keringat yang menetes, teriakan dewasa pemain mobail lejen. Remang-remang TOA masjid yang parau. Menarilah jemarimu pada cipta karya manusia. Melukiskan keluh kesah pada kegelapan. Pada tanah industri yang kian melahap butir-butir padi. Barisan-barisan tebu yang memelihara gelapnya sendiri.

Pada industri yang minim akhlak, kau meredam silaunya di lautan kesabaran. Hamparan peluh lagi-lagi menyadarkan. Kau tak setegar ombak itu. Kau rapuh di segala tampak. Minim daya tawar. Penaklukan demi penaklukan bahkan bertubi-tubi menghujam hingga periode akhir. Mereka bertopeng akhlak dan tatakrama. Tapi meludah di mukamu.

Sidoarjo, 21 Agustus 2018.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s