Gelisah

Ini ibarat sebuah bendungan yang tua renta menahan deburan air yang riuh menerjang, seperti kerumuman manusia-manusia yang menyaksikan animasi-animasi serta kepalsuan-kepalsuan dari tanah yang tercerabik 2 ideologi non pribuminya.

Mengharapkan apa yang tak mungkin diharapnya, adalah sunyi yang teramat dalam. Kasih yang tak tergapai. Makhluk yang gagal membangun nalar. Eksistensi yang riuh menerjang menerpa, namun remuk redam pada ajal.

Hai semilir artifisial, sebongkah kemunafikan, satu kontainer kerapuhan. Silahkan tidur, dalam gegap gempita kegagalan, keperihan, kegetiran. Dari merekahnya mentari hingga terbenamlah ia, engkau melacurkan diri kepada kapitalisme, demi nalar-nalar yang tak sampai hati untuk terasah, demi hati-hati yang riuh rendah mabuk kebudayaan milenial.

Humamu sudah habis terbakar asa. Lubukmu sudah busuk, penuh dosa yang tak terperi. Lalu dimanakah engkau berpulang?

ahahaha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s