Pengabdi Gengsi

Percaya bahwa hidup ini adalah bukan yang sebenar-benarnya hidup. Bahwa hidup adalah ketika kematian terlewati. Dan mati adalah kehidupan ini. Blio sangat percaya itu. Mungkin.

Namun sayang sekali. Statusnya sebagai pensiunan perusahaan negara, entah negara atau pemerintah, membuatnya dikelilingi dialektika yang menciptakan gengsi-gengsi.

Memang, urip mung mampir ngombe. Namun semampir-mampirnya, kita malu dong kalau apa-apa yang kita ada-adakan tidak setara atau kalau bisa lebih tinggi dari standar masyarakat. Hehe. Sialnya masyarakat yang menjadi patokan adalah korban dari sistem kapitalisme.

Jadi apa boleh buat? Jawa ya Jawa, tapi mbok jangan kalah dong dalam persaingan materialistik. Hehe. Kira-kira begitukah suara hati blio? Entahlah

Terus kamu mau apa? Ya nggak bisa apa-apa. Bisa sih, sedikit, minimal mendoktrin aku sendiri. Hahahaha. Nasib orang kalah. Ya nggak apa-apa dong. Toh aku gak memaksakan doktrin ke orang lain. Doktrin apa sih? Doktrin bahwa aku ini kere, maka bodoh kalau aku merangkak-rangkak ke standar para pegawai perusahaan negara. Negara atau pemerintah? Auk ah lap.

Apa aku nggak punya gengsi? Punya lah! Tapi gengsi pada kondisiku ini. Bukan gengsi yang sama dengan mereka-mereka dan blio-blio.

Gengsi yang gimana bos? Gengsi lah aku kalau bejejer sama mereka, hwahahahaha.

Yasudah, syukur-syukur karena kere, maka aku cukup mampu memanifestasikan bahwa mati adalah hidup, bahwa hidup adalah mati. Ya gimana lagi. Lha wong sudah kalah 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s