Khotbah Jumat Terbaik Awal 2018

Saya mungkin punya bekal dosa yang naudzubillah karena sering sambat ketika mendengar khotbah jumat. Bahkan pada suatu ketika saya pernah memilih “bolos” jumatan karena setiap jumat mendengar khotbah yang nggak membuat hati saya tenang. Tapi tanggal 12 januari 2018 menjadi waktu yang anomali. Ibaratnya saya yang terbiasa hidup di bawah terik matahari tiba-tiba terperosok ke dalam danau yang bening nan menyegarkan. Lebay, hehe. Kenapa? 

Batik saya kenakan menutupi kaos yang rasanya agak nganu kalau dipakai jumatan. Kemudian saya wudlu. Dari kantor sampai masjid perlu waktu 5 menitan berjalan kaki. Kemudian saya duduk. Ternyata waktu menuju khotbah masih agak lama. Maka kantuk menyerang. Alhamdulillah, saya nggak punya bakat untuk ketiduran ketika jumatan. Jadi walaupun kepala sudah berat, tapi secara otomatis tersadar juga. Ini agak menyiksa sih, baiknya emang langsung aja ketiduran. Cuman mungkin bikin malu ya, heuheu. Singkat cerita khotbah dimulai. Secara naluri, pikiran saya sudah keluyuran gak jelas. Terbiasa tidak menerima apapun kata khatib. Hingga sampai pada penjelasan bahwa jumlah umat Islam di indonesia menurun, dari 97an persen, menjadi hanya 70an persen. Oke, lalu? Ah paling nanti nyambungnya ke kewajiban kita menjaga dan memaksa orang untuk bertahan pada Islam. Begitu guman saya. Namun meleset!. Khatib justru menitikberatkan pada perjuangan ekonomi. Bahwa kemiskinanlah yang menjadi fokus utama pemurtadan. WAH INI, saya sangat excited sekali waktu itu. Kemudian beliau mencontohkan pada KH Ahmad Dahlan dalam perjuangan mengamalkan surat Al Maun dimana titik beratnya adalah menolong anak-anak yatim yang terancam masuk zona kefakiran. Juga menampar orang-orang ahli ibadah yang tak peduli dengan itu. Kemudian beliau menyebut juga peran KH Hasyim Asyari yang mondar-mandir Jombang-Surabaya untuk menguatkan serikat ekonomi umat kala itu. Saya kurang paham detailnya.

Pemurtadan tidak dapat dicegah hanya dengan persekusi dan bullying. Jalan terbaik adalah segera pelajari ada masalah apa pada seseorang hingga memilih murtad. Kebanyakan karena motif ekonomi. Maka umat Islam seharusnya mulai lebih aktif untuk mengembangkan perekonomian yang saling menguntungkan sesama. Dan utamanya menyudahi perdebatan soal bid’ah, tahlilan, khilafah, kenduri, dsb. 

Saya bukan pendukung fanatik tahlilan atau khilafah. Saya cuman orang awam +abangan yang eneg melihat orang berbusa-busa dalam membahas itu, tapi lupa ada banyak orang-orang yang masuk gerbang kefakiran. Diperparah dengan pemerintah yang … Heuheuehu. Makin banyak orang masuk gerbang kefakiran, makin banyak pula potensi kemurtadan. Lalu pastinya akan lebih banyak bullying dan persekusi terhadap si murtad, yang kemungkinan malah mempetegas kebencian dia terhadap Islam. 

Itu menurut saya sih. Yang jelas khotbahnya keren. Saya sangat setuju. Hehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s