Media Sosial

Semua orang diberi kebebasan berekspresi. Semua orang menyampaikan aspirasi. Tanpa hijab, tanpa sekat, tanpa batasan. Ada lah batasan, nggak bisa interaksi fisik. Syukur-syukur suatu hari ada fitur sosial media yang memungkinkan orang melakukan kontak fisik. Nggak hanya via teks, gambar, audio, dan video. Jadi misalnya kamu pengen nampol ya tampol aja. Jadinya tidak lagi ada pengecut-pengecut yang berlindung dan bertopeng dibalik media sosial. Meskipun ngeri-ngeri juga. Kalau dihubungkan perkara yang masyarakat menyebutnya zina. Silahkan berimajinasi.

Media sosial membuat saya menjadi berjarak dengan kepercayaan saya, terutama ketika ada orang-orang yang menyampaikan sesuatu secara dikotomis. Pilihan ganda, jika a maka anti b. Ini ngeri. Orang-orang yang berhasil memasuki psikologi semangat anak muda dimana saat ini Indonesia panen generasi milenial. Bagus memang, tapi saya ngeri. Ketika sesuatu sangat terpolarisasi, maka orang yang berkait dengannya dipaksa untuk memilih a atau b. Padahal dia bisa memilih c. Tapi karena pilihan yang dipresentasikannya hanya a dan b. Ditambah diperkuat dengan tafsir dalil yang mensahkan bahwa pilihannya hanya a dan b. Ya nggak salah juga, karena hidup memang ada dualisme itu, tetapi pada konteks itu, efeknya sangat mencengangkan. Orang jadinya dituntut untuk memilih a dan b. Orang yang tak memilih dua itu akan tersingkir. Padahal ketika suasana tidak kondusif antara penyokong a dan b, maka bisa saja penyokong c justru yang paling mampu mendamaikan penyokong a dan b. Tapi dimanakah si penyokong c? Dia sudah terlanjur dibuang oleh orang-orang yang menuntut manusia memilih a dan b. Dibuang dengan branding mengajak. Lho, mengajak kok membuang?

Maka saya memilih terbuang. Meskipun diam-diam tidak siap juga. Pada zaman ini, yang sejahtera adalah yang memilih a atau b. Meskipun untuk mencapai sejahtera, si a harus mempropagandakan semesta untuk meniadakan si b. Begitu juga sebaliknya. Maka ada rombongan-rombongan kecil yang terasing. Yang tidak tega terhadap si a dan si b. Yang ironisnya juga dibuang-buang oleh penyokong a dan b.

Sampai kapan seperti ini? 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s