Grup Belajar Aksara Jawa di Facebook

dulu waktu masih SD, diantara teman-teman saya, saya termasuk yang paling hapal aksara jawa. Tapi dalam perkembangannya, alhamdulillah masih sedikit-sedikit hafal, meskipun kemampuan Bahasa Krama Inggil nyaris kosong melompong, heuheu.

Suatu hari, ada sebuah komunitas muncul di beranda facebook. Komunitas ini menamakan dirinya KOJAKU (Komunitas Jawa Kuno), insyaallah saya bahas di postingan berikutnya. Dari komunitas ini saya jadi tahu, bahwa sebelum hanacaraka digunakan, ada huruf jawa kuno, atau juga bisa disebut huruf kawi. Dari situ iseng-iseng saya menghafalkan Aksara Jawa Kuno, sekaligus Aksara Jawa yang hanacaraka.

DSC_0459

Suatu hari (lagi), di beranda facebook saya muncul lagi grup belajar Aksara Jawa. Wah langsung saya masuk. Saya baru tahu ternyata sudah ada orang-orang yang mengembangkan font Aksara Jawa untuk digunakan di perangkat elektronik. heuheuheu. Ada dua grup yang saya tahu, yaitu :
Grup Sinau Aksara Jawa. silahkan di klik. link tersebut.
Capture

dan Grup Sinau Nulis Jawa. (silahkan di klik link tersebut)
Capture2

mantap kan? setelah menelusuri lebih lanjut, ternyata banyak juga ragam font Aksara Jawa yang sudah dan sedang dikembangan. Agar Aksara ini dapat digunakan di semua perangkat elektronik dengan OS apapun. Kabarnya tidak hanya Aksara Jawa saja yang sedang dikembangkan kompatibilitasnya dengan perangkat elektronik, aksara-aksara lainnya juga seperti Bali, Bugis, Sunda, dll. wow.

Padahal baru bulan lalu saya bertanya-tanya kenapa Thailand, China, Jepang, India, Arab, Rusia, dll bertahan dengan aksaranya sendiri sembari menggunakan huruf latin, sedangkan bangsa-bangsa di Nusantara meninggalkan aksaranya begitu saja dan 100% menggunakan huruf latin? bukan berarti saya menolak huruf latin. Latin bagus untuk menyatukan Nusantara, untuk berkomunikasi secara internasional. Tapi apa gunanya jika kita menggunakan 100% huruf latin dan meninggalkan hasil budaya sendiri?. heuheu.

Ibarat Gado-Gado atau Ketoprak menurut orang Jakarta, lontong harus jadi lontong sejati, kerupuk harus jadi kerupuk, tidak boleh lembek seperti lontong, sambel harus jadi sambel, tomat harus jadi tomat, dsb dsb, sehingga ketika disatukan menjadi Gado-Gado akan terasa mantap karena elemen-elemennya menjadi diri sendiri.

Begitu juga Nusantara, Sunda harus jadi Sunda, Jawa harus Jawa, Madura harus Madura, Bali harus Bali, Papua harus Papua, dsb dsb. Sehingga ketika bersatu menjadi Indonesia, akan terasa mantap karena semua sudah punya karakter masing-masing.

Lha kalau Jawa pengen jadi Arab, Sunda pengen jadi Barat, Sambel nggak pedes, Kerupuk nggak kriuk… Gado-Gado macam apa Indonesia itu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s