Lek Wedi Mati Yo Ojo Urip

bapak e masha

Gambarnya terinspirasi dari gambar seseorang yang saya temukan di google, gambar malaikat pencabut nyawa versi budaya eropa yang tanpa wajah, mengenakan jubah dan memanggul semacam arit. lalu saya merubahnya sedikit dengan memberi wajah arca Bhatara Kala dengan pegangan arit yang berupa akar-akaran biar terlihat makin angker. tapi setelah dilihat-lihat, saya jadi teringat masha kartun Russia itu yang mengenakkan kudung juga.

Lek Wedi Mati Yo Ojo Urip, 
dalam bahasa Indonesia adalah “Kalau Takut Mati Ya Jangan Hidup”.

sebelumnya, jangan dianggap saya merupakan bagian dari kelompok-kelompok teroris seperti isis, sumuk, atau apalah yang menganjurkan mencari kematian melalui bom bunuh diri dsb. Mereka orang bodoh yang mengharapkan surga dengan menghapus kemanusiaannya. Belum tentu juga surga rela mereka masuki.

kalimat Lek Wedi Mati Yo Ojo Urip ini merupakan sindiran terhadap manusia-manusia modern yang sedemikian lekatnya dengan kehidupan duniawi sehingga ketakukan sangat parah ketika membahas, membaca, bahkan mengingat sekalipun tentang kematian. Padahal mereka tahu, kematian merupakan satu-satunya kepastian dalam hidup.

Apalagi kalau mereka beragama Islam. Bukankah Kanjeng Nabi juga pernah berkata bahwa kematian merupakan nasehat terbaik?

Rasa-rasanya bodoh ketika manusia dilahirkan di Indonesia, dengan begitu banyak gunung berapi aktif (coba panjenengan hitung sendiri) takut terhadap kematian. bukankah ancaman sebegitu nyata membuat kita menjadi lebih mempersiapkan diri menghadapi kematian? Candi Borobudur yang  sebesar itu dan berada di atas bukit setinggi itu saja pernah terbenam karena bencana alam. apalagi saya misalnya yang sekecil ini hidup di dataran rendah (Kota Gresik) yang punya potensi untuk ‘dibenamkan’ oleh berpuluh-pulung Gunung di Nusantara.

padahal mempelajari kematian juga membuat kita lebih ikhlas dalam menghadapi situasi di dunia yang tidak menentu ini. juga membuat kita sadar untuk lebih banyak menanam kebaikan di dunia.

Contohlah arek-arek Suroboyo, Gresik, Lamongan, Sidoarjo dan santri-santri Mojokerto, Jombang dan sekitarnya dahulu yang bermental wani matek pada perang 10 november. Juga semangat-semangat masyarakat Aceh, Maluku, dan bagian-bagian lain dari Nusantara yang berjuang mengusir penjajah. Bukankah itu tipikal manusia Nusantara Sejati?

oia, saya lupa bagian pentingnya. bahwa kalimat ini saya peroleh dari Cak Nun, yang mungkin bagi sebagian kalian merupakan seseorang kontroversial. tidak perlu juga setuju dengan tulisan saya, atau pemikiran beliau. silahkan pikirkan wacana yang telah terpapar. setuju monggo, tidak setuju ya monggo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s