Image

Pengabdi Gengsi

Percaya bahwa hidup ini adalah bukan yang sebenar-benarnya hidup. Bahwa hidup adalah ketika kematian terlewati. Dan mati adalah kehidupan ini. Blio sangat percaya itu. Mungkin.

Namun sayang sekali. Statusnya sebagai pensiunan perusahaan negara, entah negara atau pemerintah, membuatnya dikelilingi dialektika yang menciptakan gengsi-gengsi.

Memang, urip mung mampir ngombe. Namun semampir-mampirnya, kita malu dong kalau apa-apa yang kita ada-adakan tidak setara atau kalau bisa lebih tinggi dari standar masyarakat. Hehe. Sialnya masyarakat yang menjadi patokan adalah korban dari sistem kapitalisme.

Jadi apa boleh buat? Jawa ya Jawa, tapi mbok jangan kalah dong dalam persaingan materialistik. Hehe. Kira-kira begitukah suara hati blio? Entahlah

Terus kamu mau apa? Ya nggak bisa apa-apa. Bisa sih, sedikit, minimal mendoktrin aku sendiri. Hahahaha. Nasib orang kalah. Ya nggak apa-apa dong. Toh aku gak memaksakan doktrin ke orang lain. Doktrin apa sih? Doktrin bahwa aku ini kere, maka bodoh kalau aku merangkak-rangkak ke standar para pegawai perusahaan negara. Negara atau pemerintah? Auk ah lap.

Apa aku nggak punya gengsi? Punya lah! Tapi gengsi pada kondisiku ini. Bukan gengsi yang sama dengan mereka-mereka dan blio-blio.

Gengsi yang gimana bos? Gengsi lah aku kalau bejejer sama mereka, hwahahahaha.

Yasudah, syukur-syukur karena kere, maka aku cukup mampu memanifestasikan bahwa mati adalah hidup, bahwa hidup adalah mati. Ya gimana lagi. Lha wong sudah kalah 🙂

Advertisements

Khotbah Jumat Terbaik Awal 2018

Saya mungkin punya bekal dosa yang naudzubillah karena sering sambat ketika mendengar khotbah jumat. Bahkan pada suatu ketika saya pernah memilih “bolos” jumatan karena setiap jumat mendengar khotbah yang nggak membuat hati saya tenang. Tapi tanggal 12 januari 2018 menjadi waktu yang anomali. Ibaratnya saya yang terbiasa hidup di bawah terik matahari tiba-tiba terperosok ke dalam danau yang bening nan menyegarkan. Lebay, hehe. Kenapa? 

Batik saya kenakan menutupi kaos yang rasanya agak nganu kalau dipakai jumatan. Kemudian saya wudlu. Dari kantor sampai masjid perlu waktu 5 menitan berjalan kaki. Kemudian saya duduk. Ternyata waktu menuju khotbah masih agak lama. Maka kantuk menyerang. Alhamdulillah, saya nggak punya bakat untuk ketiduran ketika jumatan. Jadi walaupun kepala sudah berat, tapi secara otomatis tersadar juga. Ini agak menyiksa sih, baiknya emang langsung aja ketiduran. Cuman mungkin bikin malu ya, heuheu. Singkat cerita khotbah dimulai. Secara naluri, pikiran saya sudah keluyuran gak jelas. Terbiasa tidak menerima apapun kata khatib. Hingga sampai pada penjelasan bahwa jumlah umat Islam di indonesia menurun, dari 97an persen, menjadi hanya 70an persen. Oke, lalu? Ah paling nanti nyambungnya ke kewajiban kita menjaga dan memaksa orang untuk bertahan pada Islam. Begitu guman saya. Namun meleset!. Khatib justru menitikberatkan pada perjuangan ekonomi. Bahwa kemiskinanlah yang menjadi fokus utama pemurtadan. WAH INI, saya sangat excited sekali waktu itu. Kemudian beliau mencontohkan pada KH Ahmad Dahlan dalam perjuangan mengamalkan surat Al Maun dimana titik beratnya adalah menolong anak-anak yatim yang terancam masuk zona kefakiran. Juga menampar orang-orang ahli ibadah yang tak peduli dengan itu. Kemudian beliau menyebut juga peran KH Hasyim Asyari yang mondar-mandir Jombang-Surabaya untuk menguatkan serikat ekonomi umat kala itu. Saya kurang paham detailnya.

Pemurtadan tidak dapat dicegah hanya dengan persekusi dan bullying. Jalan terbaik adalah segera pelajari ada masalah apa pada seseorang hingga memilih murtad. Kebanyakan karena motif ekonomi. Maka umat Islam seharusnya mulai lebih aktif untuk mengembangkan perekonomian yang saling menguntungkan sesama. Dan utamanya menyudahi perdebatan soal bid’ah, tahlilan, khilafah, kenduri, dsb. 

Saya bukan pendukung fanatik tahlilan atau khilafah. Saya cuman orang awam +abangan yang eneg melihat orang berbusa-busa dalam membahas itu, tapi lupa ada banyak orang-orang yang masuk gerbang kefakiran. Diperparah dengan pemerintah yang … Heuheuehu. Makin banyak orang masuk gerbang kefakiran, makin banyak pula potensi kemurtadan. Lalu pastinya akan lebih banyak bullying dan persekusi terhadap si murtad, yang kemungkinan malah mempetegas kebencian dia terhadap Islam. 

Itu menurut saya sih. Yang jelas khotbahnya keren. Saya sangat setuju. Hehe.

Image

Media Sosial

Semua orang diberi kebebasan berekspresi. Semua orang menyampaikan aspirasi. Tanpa hijab, tanpa sekat, tanpa batasan. Ada lah batasan, nggak bisa interaksi fisik. Syukur-syukur suatu hari ada fitur sosial media yang memungkinkan orang melakukan kontak fisik. Nggak hanya via teks, gambar, audio, dan video. Jadi misalnya kamu pengen nampol ya tampol aja. Jadinya tidak lagi ada pengecut-pengecut yang berlindung dan bertopeng dibalik media sosial. Meskipun ngeri-ngeri juga. Kalau dihubungkan perkara yang masyarakat menyebutnya zina. Silahkan berimajinasi.

Media sosial membuat saya menjadi berjarak dengan kepercayaan saya, terutama ketika ada orang-orang yang menyampaikan sesuatu secara dikotomis. Pilihan ganda, jika a maka anti b. Ini ngeri. Orang-orang yang berhasil memasuki psikologi semangat anak muda dimana saat ini Indonesia panen generasi milenial. Bagus memang, tapi saya ngeri. Ketika sesuatu sangat terpolarisasi, maka orang yang berkait dengannya dipaksa untuk memilih a atau b. Padahal dia bisa memilih c. Tapi karena pilihan yang dipresentasikannya hanya a dan b. Ditambah diperkuat dengan tafsir dalil yang mensahkan bahwa pilihannya hanya a dan b. Ya nggak salah juga, karena hidup memang ada dualisme itu, tetapi pada konteks itu, efeknya sangat mencengangkan. Orang jadinya dituntut untuk memilih a dan b. Orang yang tak memilih dua itu akan tersingkir. Padahal ketika suasana tidak kondusif antara penyokong a dan b, maka bisa saja penyokong c justru yang paling mampu mendamaikan penyokong a dan b. Tapi dimanakah si penyokong c? Dia sudah terlanjur dibuang oleh orang-orang yang menuntut manusia memilih a dan b. Dibuang dengan branding mengajak. Lho, mengajak kok membuang?

Maka saya memilih terbuang. Meskipun diam-diam tidak siap juga. Pada zaman ini, yang sejahtera adalah yang memilih a atau b. Meskipun untuk mencapai sejahtera, si a harus mempropagandakan semesta untuk meniadakan si b. Begitu juga sebaliknya. Maka ada rombongan-rombongan kecil yang terasing. Yang tidak tega terhadap si a dan si b. Yang ironisnya juga dibuang-buang oleh penyokong a dan b.

Sampai kapan seperti ini? 

Mengisi Waktu dengan Duolingo

Apa itu Duolingo? Ialah aplikasi android (yang juga terdapat versi websitenya) yang mengajak kita bermain sambil belajar bahasa. Bahasa apa? banyak. Namun saat ini, untuk penutur bahasa Indonesia hanya bisa belajar bahasa Inggris. Nah kalau sudah mahir bahasa Inggris, maka akan banyak pintu untuk belajar bahasa-bahasa yang lain. Sampai saat ini saya baru mencoba belajar bahasa Belanda, Russia, dan Spanyol.

Screenshot_2017-12-31-07-38-00-774_com.duolingo

Ketika masuk suatu pembelajaran bahasa, kita akan dihadapkan pada bab-bab yang akan dilalui. Seperti pada gambar diatas, terdapat bab pertanyaan, kata sambung, preposisi, dsb. Bab-bab tersebut berisi pertanyaan dengan berbagai varian lengkap dengan audio pengucapan bahasa yang kita pelajari, yang harus dijawab dengan benar. Kalau salah, maka pertanyaan akan diulang-ulang sampai benar.

Screenshot_2017-12-31-07-33-55-031_com.duolingo

Gambar tersebut adalah salah satu format pertanyaan. Dimana kamu diperintahkan untuk menulis suara yang keluar. Kalau suara itu berupa kalimat panjang dan diucapkan terlalu cepat, kamu bisa memilih ikon kura-kura agar kalimat diucapkan per kata dengan lambat dan lebih fasih sehingga kamu lebih mudah mengidentifikasi.

Screenshot_2017-12-31-07-34-29-858_com.duolingo

Nah yang ini tipe pertanyaan pilihan ganda. Kamu mestinya sudah familiar.

Screenshot_2017-12-31-07-35-02-973_com.duolingo

Setiap menyelesaikan 1 SUBbab, XP mu bertambah 10 poin. Kamu bisa memasang target harian. Kalau saya memasang target 50 XP tiap hari. Paling minim kalau tidak salah targetnya 10 XP per hari. Meskipun kalau tidak memainkan ini sama sekali ya nggak apa-apa juga.

Kenapa saya rutin memainkan Duolingo? Ya jelas keinginan utamanya ingin bisa bahasa lain. Utamanya Inggris. Dan Duolingo memberikan fasilitas pembelajaran yang menarik. Gratis pula. Juga karena sudah bosan dan nggak tau mau unduh permainan apa lagi. Yasudah, main ini saja 😀

 

Dakwah tanpa cangkeman

Bila matahari, sepenggal jaraknya. padang yang luas, tak ada batasnya. Berarak, beriringan, berseru, dan menyebut, dia.”

Sepenggal bait lagu yang diciptakan band Efek Rumah Kaca yang menginspirasi saya untuk membuat ilustrasi dibawah ini. 

Aku agak terlambat mengenal ERK. Padahal lagu-lagunya menjadi makanan sehari-hari di kantor. Kagum pertama kali ketika tau lirik dari lagu “putih” yang menyebut kata “tahlilan” di dalamnya. Disadari atau tidak, menurut saya itu kredit tersendiri terhadap eksistensi Nahdliyyin di dunia seni khususnya musik, dan juga di tengah-tengah suasana merebaknya puritanisme Islam. 

Dari lagu Putih ini, seorang teman juga menimpali bahwa lagu-lagu ERK di album Sinestesia juga oke-oke. Besoknya setiap ngantor, saya langsung setel satu album ERK itu. 

Liriknya membawa saya menuju alam perenungan. Ditambah musik yang mendukung suasana yang mistis, khusyuk, transenden. Hingga ketika memejamkan mata, seolah-olah melayang-layang menghampiri dosa-dosa yang lalu. Serta membayangkan apa yang akan terjadi esok. 

Saya sering menangis diam-diam ketika mengikuti maiyahan. Dan itu saya rasakan juga ketika mendengarkan lagu-lagu di album Sinestesia. Tanpa sadar terseret, dipaksa mengingat, dipaksa berpikir, dipaksa mengkalkulasi pahala dan dosa, siapa saja yang tersakiti oleh diri ini, cukupkah bekal menghadapi padang yang luas tanpa batas, dsb. 

Ironisnya, saya tidak mendapat itu ketika menjalankan Sholat Jumat. 

ERK ini melampaui dakwah, jika dakwah tanpa teriakan yang memekakkan telinga. Dakwah kreatif menebar inspirasi. Minim paksaan dogma-dogma, dan justru mengajak berpikir, dan menganalisa kehidupan. 

Rasanya lagu-lagu ERK tidak mungkin sebooming lagu-lagu band pop mainstream. Namun pengaruhnya yang membawa kebermanfaatan pada pendengarnya, rasanya lebih berharga karena menjadi amal jariyah tersendiri. 

Fatehah untuk ERK dan siapapun yang terlibat di dalamnya. 

Wisanggeni dalam Logo

tes

Ini adalah logo pesanan teman saya, yang memilih jalan hidup untuk berkarir dan berinovasi di bidang teknologi informasi (sebut saja begitu, agak ketinggalan zaman juga saya soal IT). Namanya Adam Pahlevi. Kita 1 sekolah waktu SMP, meskipun nggak seberapa akrab. Meskipun juga blionya sekarang jadi lebih keren pencapaiannya daripada saya.

Kali ini blio memesan logo dengan katakunci “Indonesian Center of Computer Research”, dan benchmark logo ke Mozilla, Chrome, dsb. Yang masih ikonik dengan kata Indonesia salah satunya adalah wayang. Meskipun lebih melekat ke Jawa, tapi Jawa kan juga Indonesia (kalau dianggap sih), hehe.

Kemudian, dari berbagai tokoh pewayangan, muncul nama Wisanggeni. Saya pertama mengenal nama Wisanggeni baru-baru saja. Ketika maiyahan via youtube. Sejarah lengkap Wisanggeni mungkin bisa di googling saja. Yang jelas, Si Adam ini juga menurut saya merupakan ejawantah Wisanggeni di zaman now. Wisanggeni mewakili karakter pemuda yang meledak-ledak. Yang berani mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Yang berani melawan arus mainstream kehidupan.

Indonesia zaman now sebenarnya berkelimpahan wisanggeni-wisanggeni. Saking kompleksnya permasalahan di sini, dan adanya pemerintahan yang seharusnya membantu kehidupan rakyat, justru merepotkan rakyat dengan berbagai macam persoalan. Persoalan yang bertumpuk-tumpuk itu ternyata turut menciptakan “wisanggeni”. Namun sayangnya, munculnya wisanggeni-wisanggeni itu ternyata juga ikut memperburuk keadaan. Ada potensi untuk menggebrak dunia. Tapi entah kapan itu terwujud. Karena mereka justru tenggelam dalam keasyikan pertikaian antar sesama wisanggeni.

Ada wisanggeni syariat, ada wisanggeni budaya.
Ada wisanggeni Sunnah, ada wisanggeni Bid’ah (kreatif)
Ada wisanggeni sejarah, ada wisanggeni masa depan.
Ada wisanggeni kiri, ada wisanggeni kanan.
Ada wisanggeni hitam, ada wisanggeni putih.
Ada wisanggeni aksara konservatif, ada wisanggeni aksara moderat, ditambah radikal.
Ada wisanggeni pro semen, ada wisanggeni pro samin.
Ada wisanggeni pro BUMN, ada wisanggeni pro wirausaha.

Banyak lah… heuheu.

Image

Generasi Tua Sok Tau, Milenial Sombong

“Aku rodok gak sreg ambek cara maine timnas mau awan” Kata mbah Min mengomentari laga kualifikasi AFC-U19 antara Indonesia vs Brunei di Korea Selatan.

“Iyo ya, terlalu nyantai. Kakean oper. Gak ndang dilangsung ae” cak Mad menambahi.

Mendengar itu, Anton hanya meringis dan menggeleng-geleng kepala. Sebagai pendukung pelatih kepala Indra Sjafri, Anton sangat mendukung segala keputusan yang diambil beliau, yang diterapkan kepada Egy dkk. Anak-anak milenial, generasi baru kedua sepakbola Indonesia (yang pertama generasi Evan Dimas dkk.). Tapi Anton juga tak ingin menganggap mbah Min dan cak Mad sok tau, meskipun mungkin memang agak sok tau.. heuheuehu. Anton beranggapan, mbah Min dan cak Mad ini hanyalah sebagian kecil dari warganet (meskipun hanya melihat dari televisi dan koran (maklum, generasi tua)). Tapi secara sifat kan sama antara yang mengakses dari tv dan koran, maupun dari media sosial. Sama-sama sok tau. Hehehe. Tentu saja juga sama-sama memiliki kebebasan untuk berkomentar, bahkan mencela. Anton sangat-sangat berusaha agar tidak serta merta menyalahkan mbah Min dan cak Mad. Dia takut sombong.. subhanallah. Cuman ya gregetan juga. Ya apa gak bingung kalau lawan menerapkan parkir bus seperti itu. Opini cak Mad yang “Gak ndang dilangsung ae” itu sangat membingungkan.. Piye carane dilangsung? ketika 10 pemain lawan bertahan di kotak pinalti? hihihi..

Slrrrrup.. Anton menyeruput kuah mi instan bikinan mbah Min dengan mantab. Kemudian obrolan dimulai lagi.

“jadwal pertandingane lak diseling-seling 2 hari sekali. Dino iki gawe grup Indonesia, Sesuk gawe grup liyo, lusa gawe Indonesia maneh. Ikikan mek 2 grup” kata Mbah Min

“Lho mbah, grup e lho sampek grup F. F iku huruf ke 6 lho. berarti onok 6 grup” Potong cak Mad.

“Yo gak, paling negorone mek iku-iku ae, paling 8 negoro, paling Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Malaysia, Brunei, Myanmar, Indonesia, Filipina, Korea Selatan…” tanpa sadar mbah Min menyebut lebih dari 8 negara. Anton tertawa getir lagi. Anton menerka-nerka, mbah Min ini menganggap asia itu adalah asia tenggara. Maka yang disebutkan hanya negara-negara asia tenggara. Agak kacau juga ini geografinya. Sementara cak Mad juga kebingungan karena melihat ada lho grup F, lha kok disimpulkan mbah Min jadi 2 grub. heuehuheuehu. Anton sebenernya gregeten pingin ikut nimbrung. Tapi dasar si Anton, borjuis kere, nggak mau kehilangan kenikmatan kuah mi instan untuk sekedar membenahi sesuatu yang menguras tenaga. heuheheu.