Image

besok mati

amin

Advertisements
Image

Gumam Sandyakala

Ya Tuhan. Semesta. Ya Allah. Tulisan-tulisan itu. Kata-kata yang meluncur perlahan. Dari bibir-bibir kering hambamu. Lalu tertulis maya dalam jendela teknologi.

Ya, siapapun engkau yang maha segalanya. Yang mencatatkan rakaat panjang kepada hambaMu. Yang mengilhami perang yang tak mungkin dimenangkan ini. Bantulah kami Ya Tuhan, ya Gusti. Mereka telah sampai di halaman rumah kami. Mereka telah merangsek dalam pada dapur-dapur kami. Dan mulai mengendap-endap di dalam lelap kami.

Ya Allah. lindungilah kami dari umatMu. Yang berpesta pora dalam prasangka. Yang terlambat untuk mengakal kehidupan.

Ya Tuhan. Jikalau doa masih bisa sampai. Aku mohon, kuatkan kami dalam lautan disinformasi ini. Kuatkan kami dalam euforia simbolik prasangka ajaranmu ini.

Duh Gusti. Engkau bawa kami ke gerbang kehinaan. Atau kami sendiri yang menelantarkan nasib kami. Hingga sampailah pada kekosongan harga diri. Kami menjilat pantat maling-maling. Kami terkungkung kebodohan. Diterkam lekatnya lendir-lendir waktu.

Ya Tuhan. entahlah. Wahai penguasa jagat. Tolonglah kami.

Image

Di mana hati

Di manakah ia

yang kau sebut-sebut

luas meruang

menyamudra tanpa tepi

menyeruak dalam rimba kepentingan

matikah ia?

aku lihat dirinya meringkuk lemas

patah asa

lusuh

di benam kebingungan

kudengar ia ditanyai

tentang tanya

yang ia tak tahu mana rimbanya

tentang dunia yang nyaris gagal ia gapai

tentang dunia yang jijik akan dirinya

tentang dunia yang serampangan menjaga kumpulan hati

ia menangis pilu

tak ingin berkata-kata

mati-matian menjaga pintu amarah

mengelus-elus samudra yang membenamkannya

lantas

di mana hati itu

hatimu

ia

mereka

aku

Image

Gelap

Pada berjuta detik berhamburan, acuh akan mata angin kepekaan. Pada gemerlapnya malam manusia berpesta dalam kesempitan, berduka dari semesta. Pada sebuah kosan kelas menengah engkau tersandar, berjuta serapah kau hujamkan ke sepoi angin. Pada kakek tua yang tertatih di pinggir rel kereta, kau rapalkan fatihah dengan setitik air mata kecewa.

Pada peluh keringat yang menetes, teriakan dewasa pemain mobail lejen. Remang-remang TOA masjid yang parau. Menarilah jemarimu pada cipta karya manusia. Melukiskan keluh kesah pada kegelapan. Pada tanah industri yang kian melahap butir-butir padi. Barisan-barisan tebu yang memelihara gelapnya sendiri.

Pada industri yang minim akhlak, kau meredam silaunya di lautan kesabaran. Hamparan peluh lagi-lagi menyadarkan. Kau tak setegar ombak itu. Kau rapuh di segala tampak. Minim daya tawar. Penaklukan demi penaklukan bahkan bertubi-tubi menghujam hingga periode akhir. Mereka bertopeng akhlak dan tatakrama. Tapi meludah di mukamu.

Sidoarjo, 21 Agustus 2018.

Image

Gelisah

Ini ibarat sebuah bendungan yang tua renta menahan deburan air yang riuh menerjang, seperti kerumuman manusia-manusia yang menyaksikan animasi-animasi serta kepalsuan-kepalsuan dari tanah yang tercerabik 2 ideologi non pribuminya.

Mengharapkan apa yang tak mungkin diharapnya, adalah sunyi yang teramat dalam. Kasih yang tak tergapai. Makhluk yang gagal membangun nalar. Eksistensi yang riuh menerjang menerpa, namun remuk redam pada ajal.

Hai semilir artifisial, sebongkah kemunafikan, satu kontainer kerapuhan. Silahkan tidur, dalam gegap gempita kegagalan, keperihan, kegetiran. Dari merekahnya mentari hingga terbenamlah ia, engkau melacurkan diri kepada kapitalisme, demi nalar-nalar yang tak sampai hati untuk terasah, demi hati-hati yang riuh rendah mabuk kebudayaan milenial.

Humamu sudah habis terbakar asa. Lubukmu sudah busuk, penuh dosa yang tak terperi. Lalu dimanakah engkau berpulang?

ahahaha

Image

Puncak

Puncak dari pragmatisme adalah bunuh diri.

Puncak dari bunuh diri adalah memilih untuk tidak bunuh diri.

Memilih untuk tidak bunuh diri adalah bunuh diri itu sendiri.

Puncak dari pengharapan adalah tidak berharap.