Image

Di mana hati

Di manakah ia

yang kau sebut-sebut

luas meruang

menyamudra tanpa tepi

menyeruak dalam rimba kepentingan

matikah ia?

aku lihat dirinya meringkuk lemas

patah asa

lusuh

di benam kebingungan

kudengar ia ditanyai

tentang tanya

yang ia tak tahu mana rimbanya

tentang dunia yang nyaris gagal ia gapai

tentang dunia yang jijik akan dirinya

tentang dunia yang serampangan menjaga kumpulan hati

ia menangis pilu

tak ingin berkata-kata

mati-matian menjaga pintu amarah

mengelus-elus samudra yang membenamkannya

lantas

di mana hati itu

hatimu

ia

mereka

aku

Advertisements
Image

Semburat Kelam

Ufuk yang terbiasa

kabarkan cerah

gempita terang benderang

kini kejam menghujam

menggeser malam

yang justru memberikan lelap mimpi

dan sepercik harap dan cita

Image

Gelap

Pada berjuta detik berhamburan, acuh akan mata angin kepekaan. Pada gemerlapnya malam manusia berpesta dalam kesempitan, berduka dari semesta. Pada sebuah kosan kelas menengah engkau tersandar, berjuta serapah kau hujamkan ke sepoi angin. Pada kakek tua yang tertatih di pinggir rel kereta, kau rapalkan fatihah dengan setitik air mata kecewa.

Pada peluh keringat yang menetes, teriakan dewasa pemain mobail lejen. Remang-remang TOA masjid yang parau. Menarilah jemarimu pada cipta karya manusia. Melukiskan keluh kesah pada kegelapan. Pada tanah industri yang kian melahap butir-butir padi. Barisan-barisan tebu yang memelihara gelapnya sendiri.

Pada industri yang minim akhlak, kau meredam silaunya di lautan kesabaran. Hamparan peluh lagi-lagi menyadarkan. Kau tak setegar ombak itu. Kau rapuh di segala tampak. Minim daya tawar. Penaklukan demi penaklukan bahkan bertubi-tubi menghujam hingga periode akhir. Mereka bertopeng akhlak dan tatakrama. Tapi meludah di mukamu.

Sidoarjo, 21 Agustus 2018.

Image

Gelisah

Ini ibarat sebuah bendungan yang tua renta menahan deburan air yang riuh menerjang, seperti kerumuman manusia-manusia yang menyaksikan animasi-animasi serta kepalsuan-kepalsuan dari tanah yang tercerabik 2 ideologi non pribuminya.

Mengharapkan apa yang tak mungkin diharapnya, adalah sunyi yang teramat dalam. Kasih yang tak tergapai. Makhluk yang gagal membangun nalar. Eksistensi yang riuh menerjang menerpa, namun remuk redam pada ajal.

Hai semilir artifisial, sebongkah kemunafikan, satu kontainer kerapuhan. Silahkan tidur, dalam gegap gempita kegagalan, keperihan, kegetiran. Dari merekahnya mentari hingga terbenamlah ia, engkau melacurkan diri kepada kapitalisme, demi nalar-nalar yang tak sampai hati untuk terasah, demi hati-hati yang riuh rendah mabuk kebudayaan milenial.

Humamu sudah habis terbakar asa. Lubukmu sudah busuk, penuh dosa yang tak terperi. Lalu dimanakah engkau berpulang?

ahahaha

Image

Puncak

Puncak dari pragmatisme adalah bunuh diri.

Puncak dari bunuh diri adalah memilih untuk tidak bunuh diri.

Memilih untuk tidak bunuh diri adalah bunuh diri itu sendiri.

Puncak dari pengharapan adalah tidak berharap.

Image

Kerja untuk Siapa?

Untuk ridha Allah…

Jawaban (mohon maaf) template temen-temen yang berhijrah mesti begitu. Maaf-maaf tentu ada dong yang benar-benar mencari ridhaNya, dan saya sangat salut!

Pertanyaannya “untuk siapa” tapi dijawab “ridha Allah”, ini jawaban sudah melenceng sesat bos..

Oke, fokus. Jadi inti masalahnya, si Fulan… Hmmm… Si Anton ajalah. Jadi si Anton mendapat tugas tambahan di hari yang seharusnya ia bebas tugas. Tentu Anton keberatan. Tapi dasar orang Jawa, ya nriman. Okelah. Tapi ya dasar turunan Surabaya, di palung hatinya misuh-misuh.

Sampailah pada pertanyaan.. kerja ini untuk siapa?

Seketika Anton mengingat sesosok cantik jelita di antara jarak yang membentang. Ya untuk dia.. Lalu kalau satu minggu aku kerja? Kapan dong Anton kencan?. Percuma dong ia kerja?

Halah kemenyek! Tugasmu toh paling 3-4 jam di tiap hari sabtu dan minggu itu! Toh nggak setiap minggu juga! Toh dalam 2 bulan ini, baru kali ini kamu bertugas di weekend! Minggu depannya lagi kan bisa kencan!

Yaaweeeslaaah!

Lumayan lho! Skill mu nambah! Fasilitas alat dari mereka juga kan! Mbok jangan keményék!

Lhe, aku lho gaurus bah skill ngéné-ngéné aé sampék maték lak yowis!

Lho, terus kon yakin iso nguripi bojomu lék kowé stagnan? Gak duwé ambisi?

Hmmm.

Iki yo membuka pilihan, gawé suatu saat awakmu resign. Skillmu nambah.

Iyo. Yowislah siap.

Image

Sepi

Dunia dan ketidaksetujuannya terhadap isi kepala kecoak ini terus berkembang. Berkembang dan berkembang, tanpa kecoak sanggup melawan. Pilihannya ikut atau mati. Kecoak ini termasuk plin-plan, setengah iya setengah tidak. Di pagi hari, ia menjilat habis-habisan dunia, memasuki petang, ia merasa menjadi musuh isi dunia.

Dunia dam seisinya, bahkan ras kecoak itu sendiri meninggalkan kecoak itu. Sedih memang. Yasudah, si kecoak tersadar lagi untuk tidak berharap banyak kepada isi dunia, termasuk ras kecoak itu sendiri. Iseng, mau sampai kapan ia akan terus berbeda. Jangan-jangan di surga pun, mereka-mereka yang ia cintai tanpa berharap dicintai pun juga meninggalkannya, dan bermain-main dengan kesenangan sendiri. Lantas si kecoak mau apa?

Ah mending ke neraka dong. Disiksa sekalian. Toh si kecoak gak suci-suci amat untuk bisa ngintip surga. Kalaupun masuk, ternyata malah tersiksa batin.. udahlah..

Bumi Delta, 9 april 2018