Dakwah tanpa cangkeman

Bila matahari, sepenggal jaraknya. padang yang luas, tak ada batasnya. Berarak, beriringan, berseru, dan menyebut, dia.”

Sepenggal bait lagu yang diciptakan band Efek Rumah Kaca yang menginspirasi saya untuk membuat ilustrasi dibawah ini. 

Aku agak terlambat mengenal ERK. Padahal lagu-lagunya menjadi makanan sehari-hari di kantor. Kagum pertama kali ketika tau lirik dari lagu “putih” yang menyebut kata “tahlilan” di dalamnya. Disadari atau tidak, menurut saya itu kredit tersendiri terhadap eksistensi Nahdliyyin di dunia seni khususnya musik, dan juga di tengah-tengah suasana merebaknya puritanisme Islam. 

Dari lagu Putih ini, seorang teman juga menimpali bahwa lagu-lagu ERK di album Sinestesia juga oke-oke. Besoknya setiap ngantor, saya langsung setel satu album ERK itu. 

Liriknya membawa saya menuju alam perenungan. Ditambah musik yang mendukung suasana yang mistis, khusyuk, transenden. Hingga ketika memejamkan mata, seolah-olah melayang-layang menghampiri dosa-dosa yang lalu. Serta membayangkan apa yang akan terjadi esok. 

Saya sering menangis diam-diam ketika mengikuti maiyahan. Dan itu saya rasakan juga ketika mendengarkan lagu-lagu di album Sinestesia. Tanpa sadar terseret, dipaksa mengingat, dipaksa berpikir, dipaksa mengkalkulasi pahala dan dosa, siapa saja yang tersakiti oleh diri ini, cukupkah bekal menghadapi padang yang luas tanpa batas, dsb. 

Ironisnya, saya tidak mendapat itu ketika menjalankan Sholat Jumat. 

ERK ini melampaui dakwah, jika dakwah tanpa teriakan yang memekakkan telinga. Dakwah kreatif menebar inspirasi. Minim paksaan dogma-dogma, dan justru mengajak berpikir, dan menganalisa kehidupan. 

Rasanya lagu-lagu ERK tidak mungkin sebooming lagu-lagu band pop mainstream. Namun pengaruhnya yang membawa kebermanfaatan pada pendengarnya, rasanya lebih berharga karena menjadi amal jariyah tersendiri. 

Fatehah untuk ERK dan siapapun yang terlibat di dalamnya. 

Advertisements

Wisanggeni dalam Logo

tes

Ini adalah logo pesanan teman saya, yang memilih jalan hidup untuk berkarir dan berinovasi di bidang teknologi informasi (sebut saja begitu, agak ketinggalan zaman juga saya soal IT). Namanya Adam Pahlevi. Kita 1 sekolah waktu SMP, meskipun nggak seberapa akrab. Meskipun juga blionya sekarang jadi lebih keren pencapaiannya daripada saya.

Kali ini blio memesan logo dengan katakunci “Indonesian Center of Computer Research”, dan benchmark logo ke Mozilla, Chrome, dsb. Yang masih ikonik dengan kata Indonesia salah satunya adalah wayang. Meskipun lebih melekat ke Jawa, tapi Jawa kan juga Indonesia (kalau dianggap sih), hehe.

Kemudian, dari berbagai tokoh pewayangan, muncul nama Wisanggeni. Saya pertama mengenal nama Wisanggeni baru-baru saja. Ketika maiyahan via youtube. Sejarah lengkap Wisanggeni mungkin bisa di googling saja. Yang jelas, Si Adam ini juga menurut saya merupakan ejawantah Wisanggeni di zaman now. Wisanggeni mewakili karakter pemuda yang meledak-ledak. Yang berani mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Yang berani melawan arus mainstream kehidupan.

Indonesia zaman now sebenarnya berkelimpahan wisanggeni-wisanggeni. Saking kompleksnya permasalahan di sini, dan adanya pemerintahan yang seharusnya membantu kehidupan rakyat, justru merepotkan rakyat dengan berbagai macam persoalan. Persoalan yang bertumpuk-tumpuk itu ternyata turut menciptakan “wisanggeni”. Namun sayangnya, munculnya wisanggeni-wisanggeni itu ternyata juga ikut memperburuk keadaan. Ada potensi untuk menggebrak dunia. Tapi entah kapan itu terwujud. Karena mereka justru tenggelam dalam keasyikan pertikaian antar sesama wisanggeni.

Ada wisanggeni syariat, ada wisanggeni budaya.
Ada wisanggeni Sunnah, ada wisanggeni Bid’ah (kreatif)
Ada wisanggeni sejarah, ada wisanggeni masa depan.
Ada wisanggeni kiri, ada wisanggeni kanan.
Ada wisanggeni hitam, ada wisanggeni putih.
Ada wisanggeni aksara konservatif, ada wisanggeni aksara moderat, ditambah radikal.
Ada wisanggeni pro semen, ada wisanggeni pro samin.
Ada wisanggeni pro BUMN, ada wisanggeni pro wirausaha.

Banyak lah… heuheu.

Image

Generasi Tua Sok Tau, Milenial Sombong

“Aku rodok gak sreg ambek cara maine timnas mau awan” Kata mbah Min mengomentari laga kualifikasi AFC-U19 antara Indonesia vs Brunei di Korea Selatan.

“Iyo ya, terlalu nyantai. Kakean oper. Gak ndang dilangsung ae” cak Mad menambahi.

Mendengar itu, Anton hanya meringis dan menggeleng-geleng kepala. Sebagai pendukung pelatih kepala Indra Sjafri, Anton sangat mendukung segala keputusan yang diambil beliau, yang diterapkan kepada Egy dkk. Anak-anak milenial, generasi baru kedua sepakbola Indonesia (yang pertama generasi Evan Dimas dkk.). Tapi Anton juga tak ingin menganggap mbah Min dan cak Mad sok tau, meskipun mungkin memang agak sok tau.. heuheuehu. Anton beranggapan, mbah Min dan cak Mad ini hanyalah sebagian kecil dari warganet (meskipun hanya melihat dari televisi dan koran (maklum, generasi tua)). Tapi secara sifat kan sama antara yang mengakses dari tv dan koran, maupun dari media sosial. Sama-sama sok tau. Hehehe. Tentu saja juga sama-sama memiliki kebebasan untuk berkomentar, bahkan mencela. Anton sangat-sangat berusaha agar tidak serta merta menyalahkan mbah Min dan cak Mad. Dia takut sombong.. subhanallah. Cuman ya gregetan juga. Ya apa gak bingung kalau lawan menerapkan parkir bus seperti itu. Opini cak Mad yang “Gak ndang dilangsung ae” itu sangat membingungkan.. Piye carane dilangsung? ketika 10 pemain lawan bertahan di kotak pinalti? hihihi..

Slrrrrup.. Anton menyeruput kuah mi instan bikinan mbah Min dengan mantab. Kemudian obrolan dimulai lagi.

“jadwal pertandingane lak diseling-seling 2 hari sekali. Dino iki gawe grup Indonesia, Sesuk gawe grup liyo, lusa gawe Indonesia maneh. Ikikan mek 2 grup” kata Mbah Min

“Lho mbah, grup e lho sampek grup F. F iku huruf ke 6 lho. berarti onok 6 grup” Potong cak Mad.

“Yo gak, paling negorone mek iku-iku ae, paling 8 negoro, paling Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Malaysia, Brunei, Myanmar, Indonesia, Filipina, Korea Selatan…” tanpa sadar mbah Min menyebut lebih dari 8 negara. Anton tertawa getir lagi. Anton menerka-nerka, mbah Min ini menganggap asia itu adalah asia tenggara. Maka yang disebutkan hanya negara-negara asia tenggara. Agak kacau juga ini geografinya. Sementara cak Mad juga kebingungan karena melihat ada lho grup F, lha kok disimpulkan mbah Min jadi 2 grub. heuehuheuehu. Anton sebenernya gregeten pingin ikut nimbrung. Tapi dasar si Anton, borjuis kere, nggak mau kehilangan kenikmatan kuah mi instan untuk sekedar membenahi sesuatu yang menguras tenaga. heuheheu.

Image

Kelas menengah bajingan, proletar munafik

Pagi bung,
tak usah bergegas menyapa mentari
santai sajalah
toh nanti bisa mewakilkan surat sakit

siang bung,
sudahkan engkau menginjak bunga-bunga bermekaran
untuk kau ludahi dengan racun-racun
dengan lapisan dosa yang semerbak membahana

sore bung,
nyamankah lautan emas berbalut perih itu
aku ingin mencicipi bung
aku ketakukan bung
jangan-jangan mawar di halamanku
ikut kau ludahi anggunnya
kau cabut akarnya
kau pendam dengan emas berbalut limbah dosa

pagi bung,
mau kemana bung? sholat subuh
subhanallah
sempurna sekali dirimu bung
pudar sudah kelalimanmu
kezalimanmu
pudar sudah liur yang kau hujankan
ke mawar-mawar bermekaran

siang bung,
apa kabar masa depan?
ah sial, tak seharusnya ku bertanya

malam bung,
tolonglah bantu kami
cukupkan jangka hidup kami bung
janganlah kau perhinakan kami
dengan parameter yang tak aku mengerti

Image

Sakit Hati

mbahSakit hati..

Apa itu sakit hati?

Lårå ati

Apa itu sakit?

Situasi dimana kamu merasa gak enak, gak nyaman, nyeri, perih, dsb

Apa itu hati?

Ada dua. Organ tubuh dan atau salah satu unsur rohani manusia.

Kenapa sakit hati?

Karena kebodohannya dirayakan? Kebodohannya dibikinkan kenduri? Atau bahasa sekarang menyebutnya bullying.

Lantas gimana? Mebalas? Memukul saat itu juga? Menyimpan dendam untuk jangka waktu tertentu? Atau untuk selamanya? Atau memaafkan? Atau tidak ada sama sekali wacana permaafan?

Ya apa carane memaafkan?

Ya tinggal dimaafkan?

Memaafkan sesuatu luka yang amat sangat membekas?

Kenapa tidak?

Segampang itu?

Yo gak gampang! Minimal pelan-pelan mbok dilupakan, atau pakai energi dendam kamu untuk berbuat lebih banyak untuk menyaingi yang kamu dendami. Minimal dalam hal perbuatan.

Misalnya?

Misalnya kamu membenci Suporter bola, dengan latar belakang orang yang hidup di jalanan yang suka mengkritik pemerintah, yang baginya kebenaran adalah pada sisi kawan-kawan suporternya. Kebenaran di luar mereka adalah hoax. Kamu mencoba menegurnya, dengan cara yang sangat amat baik. Tapi terguranmu diartikan ancaman. Kamu dituduh benci dengan suporter yang menaungi dia. Kamu dianggap tidak relevan karena tidak pernah hidup di jalan. Maka kamu mundur selangkah. Orang hidup di jalan adalah orang yang menerima ketidakadilan sistemik dari negara. Maka dia lebih dekat dengan Tuhan, dibanding kamu yang hidup “pating cemepak”. Apa-apa ada dan terjangkau. Tapi kamu tahu kalau prinsip dia bermasalah. Tapi lebih bermasalah kalau kamu ladeni. Maka kamu mundur. Kamu mungkin dendam. Tapi pada waktu itu juga kamu mengingat cerita tentang Nabi Khidir. Dimana, siapa tau, orang-orang yang kamu benci, itu adalah Nabi Khidir yang menyamar. Maka kamu semakin mundur terbirit-birit untuk menghindari konflik antara kamu dan si suporter. Tapi kamu tetap dendam, tapi tetap memahami. Yasudah.

Tapi tidak memaafkan?

Mungkin, yang jelas tidak menambah-nambah masalah.

Ya sama saja.

Ya iya, tapi kan menghindari mudhorot yang lebih besar.

Apa?

Konflik.

Aku dan dia tidak terjadi konflik kok.

Tapi diam-diam menyimpan konflik.

Kamu juga.

Yaweslah.

Kenapa Harus Mal?

Maksud saya bukan zakat mal lho, tapi mal (pusat perbelanjaan). Ya! kenapa selalu harus Mal. Dan kenapa saya sambat seperti ini?

Begini, saya terlahir dan dibesarkan di kota Gresik. Sebuah kota industri yang termasuk salah satu penyangga kota Surabaya. Disepanjang hidup saya, ketika kawan-kawan membicarakan tentang hiburan dan rekreasi, maka akan terbayang beberapa opsi. Level pertama merupakan tempat-tempat di sekitaran kota Gresik. Apa saja? bisa Bunderan GKB, Alun-alun Gresik, Bukit Hollywood, dsb. Level kedua agak keluar dari kota Gresik, semisal Pantai Delegan, dsb. Level ketiga sudah masuk luar kabupaten, semisal WBL (Wisata Bahari Lamongan), Tunjungan Plaza, Delta Plaza, Pakuwon Trade Centre. Nah lho, opsi level ketiga dipenuhi mal di kota Surabaya. Opsi-opsi ini relevan dari saat saya remaja 7 tahun lalu (sekitar 2010an) hingga saat ini (dengan tambahan lebih banyak opsi tentunya, misalnya food junction pada level ketiga, dan bukit jamur pada level kedua)

2017, di tengah hiruk-pikuk GKB (singkatan dari Gresik Kota Baru – Sebuah perumahan yang mencakup wilayah Kecamatan Manyar dan Kebomas yang tumbuh pesat menyaingi kawasan pusat kota Gresik (alun-alun)) dimulailah pembangunan Mal. Waduh. Padahal untuk urusan belanja, sudah ada Plaza Gresik (Matahari), Mal Gresik (Ramayana), dan tentunya Pasar Gresik. Apalagi ditambah Mal-mal di kota Surabaya, rasanya sudah sangat amat cukuplah. Mbok yao, dicukupkanlah penggunaan lahan untuk pihak-pihak yang memiliki modal besar. Rasanya lebih elegan untuk memberdayakan ukm dan pedagang kecil untuk ikut serta menyemarakkan GKB (karena GKB agak dianggap meminggirkan pedagang-pedagang kecil).

Caranya? ya lahan yang akan dibuat mal itu, apa tidak lebih baik digunakan untuk lahan serba guna. Ada area luas (bayangkan alun-alun Bandung dengan karpet rumputnya), dan ada area untuk pasar malam (cukup bayangkan alun-alun kota Gresik untuk area kuliner ini). Nah untuk pasar malam ini pasti sangat berpotensi akan polemik. Bisa dirembuk dengan pihak-pihak terkait tentang siapa yang pantas membuka lapak disana, kriteria lapak, asal lapak (putra daerah), dan sebagainya. Lalu siapa yang menjadi pengawas, atau bisa juga dibentuk paguyuban, dll. Dengan itu rasanya GKB akan lebih semarak dengan partisipasi masyarakat dari kalangan bawah hingga kalangan atas.

Untuk area luas yang anda bayangkan mirip alun-alun Kota Bandung itu, akan sangat mengakomodir kebutuhan anak-anak GKB dan sekitarnya akan lahan bermain. Mengingat mereka hanya memiliki area bermain di depan rumah. Daripada mengajarkan anak-anak berbelanja sejak dini, bukankah lebih baik membawa mereka ke tempat dimana banyak keluarga bisa berinteraksi dengan bebas. Bermain bola, kejar-kejaran tanpa khawatir cedera berat saat terjatuh, bisa bermain gobak sodor, patél lélé, prok gembel, bantengan dsb. Area luas ini bisa juga digunakan kumpul komunitas kecil. Komunitas literasi misalnya. Atau ditambah panggung hiburan mini yang menampilkan ekstrakulikuler seni sekolah-sekolah di Gresik. Dari mocopatan, Wayangan kecil-kecilan, tarian tradisional, hadrah, dsb (Cheerleader di prioritas terakhir saja – diutamakan hal-hal yang belum masuk ranah budaya pop). Lalu komunitas-komunitas tersebut bisa jajan di area kuliner pasar malam juga untuk memutar roda ekonomi wirausaha-wirausaha dari kalangan bawah. Jadi bukan hanya pemilik modal besar saja yang sejahtera. Gabungkan saja konsep Taman Bungkul Surabaya dengan alun-alun Bandung, ditambah area kuliner ala alun-alun Gresik.

Ya ini seandainya saja. Toh diam-diam Gresik juga punya konseptor-konseptor keren dari universitas terkemuka, serta komunitas-komunitas yang giat dan aktif untuk menjadikan Gresik lebih keren dan berbudaya. Agar tidak hanya berisi asap-asap pabrik saja lah… heuheu

 

Image

Mampir ke Cangkir 9

Akhirnya saya memutuskan untuk kembali menulis. Sementara tidak muluk-muluk, saya targetkan sebulan satu postingan di wordpress. Kenapa harus di wordpress? karena di Facebook terlalu riuh :).

Saya akan memulai cerita ini dari Cangkir 9. Apa itu Cangkir 9. Kalau yang saya pahami adalah acara duduk bersama membahas masalah dan bersama narasumber tertentu yang diselenggarakan oleh PWNU Jawa Timur yang bertempat di dekat Masjid Agung Surabaya. Meskipun saya bukan berasal dari latar belakang NU, saya tertarik datang karena ajakan teman saya. Kebetulan waktu itu panitia mendatangkan Afi Nihaya Faradisa. Siapa dia? bagi yang sering berselancar di media sosial rasanya sudah tak asing lagi dengan kemunculan beserta pro kontranya.

Acara Cangkir9 yang mendatangkan Afi

Saya mengikuti tulisan-tulisan Afi ini sejak beberapa bulan sebelum viralnya tulisan “warisan”. Sejak artikel “warisan” muncul, saya sudah jarang mampir di akun Afi. Saya bukan tidak setuju dengan artikel tersebut, namun ngilu melihat karakter pengguna sosial media. Cara mereka berkomentar itulah yang membuat saya memilih untuk mengurangi intensitas berselancar di dunia maya. Sosmed ini memviralkan Afi, sekaligus menghancurkannya. Namun melihat wajah Afi ketika mengisi acara tersebut, rasanya dia adalah seorang anak yang kuat mental, bisa jadi dia sudah terlatih oleh bajingannya cara bersosmed orang-orang.

Saya tidak akan terlibat pada pembahasan pro kontra terkait tulisan Afi. Ada beberapa hal yang saya setuju dan kurang setuju terhadap pendapat-pendapatnya. Tapi diluar itu, rasanya saya tetap wajib untuk berterima kasih atas “tamparannya”. Kemunculannya merupakan tamparan bagi siapa-siapa yang berumur diatas 20 tahun sedikit berkarya. heuheuheu. Juga berterimakasih atas munculnya wacana pembeda oleh anak usia 18 tahun dari mainstreamnya. Kebanyakan milenial saat ini akan manut grubyuk terhadap wacana-wacana yang diolah oleh felix siaw, basalamah, dkk. Terlepas dari polemik plagiasi atau apalah itu.

Juga saya merasa berkewajiban untuk mendoakan, semoga Afi dalam melangkah terus dalam bimbingan Allah SWT. Semoga terus semangat menghadapi apapun, kritik-kritik membangun maupun cacian sampah semoga makin menunjukkan, bahwa berbuat sesuatu di dunia ini dengan audien warga dunia tak semudah yang kita bayangkan.